Skandal Wasit Legendaris Collina: Pengakuan Mengejutkan Mantan Pengadil FIFA

Skandal Wasit Legendaris Collina: Pengakuan Mengejutkan Mantan Pengadil FIFA
Sumber: Liputan6.com

Legenda wasit sepak bola dunia, Pierluigi Collina, ternyata menyimpan sisi lain yang tak terduga. Ikon yang selalu tampil tegas dan karismatik di lapangan ini dikritik tajam oleh mantan wasit FIFA asal Swedia, Jonas Eriksson. Eriksson, yang memiliki karier gemilang selama 16 tahun sebagai wasit FIFA, membongkar pengalaman buruknya bersama Collina dalam sebuah wawancara dengan talkSPORT.

Kritik Eriksson ini menggemparkan dunia sepak bola, mengingat reputasi Collina yang selama ini tak tercela. Pengalaman Eriksson memimpin laga-laga besar seperti Liga Champions, Piala Dunia 2014, dan final Liga Europa 2016, memberikan bobot signifikan pada kesaksiannya.

Dari Pujian Menjadi Kritik Pedas

Eriksson memuji kemampuan Collina sebagai wasit di lapangan. Namun, ia langsung berbalik arah saat membahas kepemimpinan Collina sebagai atasan. Eriksson secara tegas menyatakan bahwa Collina adalah pemimpin terburuk yang pernah ia temui selama kariernya.

Kontras antara citra publik Collina dengan pengalaman Eriksson sangat mencolok. Eriksson menilai sikap Collina berubah drastis di depan dan di belakang kamera. Di depan kamera, Collina selalu ramah dan karismatik. Namun di balik layar, menurut Eriksson, Collina berubah menjadi sosok yang berbeda.

Banyak kolega Eriksson yang merasakan hal serupa, namun takut untuk bersuara. Mereka khawatir akan mendapat perlakuan buruk dari Collina jika berani mengungkapkan ketidakpuasan. Eriksson menggambarkan situasi ini dengan ungkapan “dilempar ke bawah bus,” menunjukkan bagaimana Collina menyingkirkan bawahan yang mengkritiknya.

Komunikasi yang Buruk dan Pengabaian yang Menyakitkan

Eriksson mengungkapkan masalah komunikasi yang serius dengan Collina. Meskipun Collina selalu menekankan pentingnya komunikasi terbuka, ia justru mematikan diskusi ketika pendapat berbeda muncul. Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian antara pesan dan tindakan Collina.

Puncak kekecewaan Eriksson terjadi saat ia mengetahui dirinya tidak terpilih untuk Piala Dunia 2018. Ia tidak mendapat pemberitahuan langsung dari Collina, melainkan membaca daftar wasit terpilih di media The Guardian. Usaha Eriksson untuk menghubungi Collina pun sia-sia; teleponnya diabaikan dan pesan singkatnya tidak dibalas.

Ketiadaan komunikasi dari Collina membuat Eriksson merasa diabaikan dan tidak dihargai. Keheningan Collina, menurut Eriksson, jauh lebih menyakitkan daripada keputusan non-seleksinya sendiri.

Kontrak di Ukraina dan Ketidakadilan yang Dirasakan

Eriksson juga menyoroti kontrak konsultan Collina di Ukraina senilai £500.000 per tahun. Hal ini bertentangan dengan larangan FIFA yang melarang wasit aktif bekerja di luar negeri. Eriksson menganggap Collina mendapat perlakuan istimewa dan merasa ada ketidakadilan dalam penerapan aturan.

Kegagalan masuk Piala Dunia 2018 menandai berakhirnya karier wasit Eriksson. Ia merasa tidak hanya marah, tetapi juga kecewa karena kurangnya penjelasan dan penghargaan dari Collina. Kekecewaan ini diperparah dengan perilaku Collina yang dinilai menghindari konfrontasi dan menghindari kejujuran.

Eriksson menjelaskan bahwa bukan keputusan non-seleksi itu sendiri yang membuatnya marah, tetapi kurangnya penjelasan dan komunikasi dari Collina yang membuatnya kecewa. Ketidakjujuran Collina ini, menurutnya, jauh lebih menyakitkan.

Hubungan yang Putus dan Masa Depan yang Tak Bertemu

Eriksson menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak ingin berhubungan lagi dengan Collina. Meskipun bertemu di lounge VIP Piala Dunia Wanita 2023, ia menolak ajakan untuk berfoto bersama dan mengirimkan foto tersebut kepada Collina.

Bagi Eriksson, babak selanjutnya dengan Collina sudah tertutup. Tidak ada ruang untuk rekonsiliasi atau perdamaian. Kisah ini menyisakan pertanyaan tentang integritas kepemimpinan, pentingnya komunikasi yang jujur dan terbuka, serta konsekuensi dari mengabaikan bawahan.

Kisah Eriksson memberikan gambaran sebaliknya dari sosok Collina yang selama ini dikenal publik. Kritik Eriksson menjadi pengingat penting bahwa kepemimpinan yang baik tidak hanya terletak pada kemampuan teknis, tetapi juga pada kualitas manajerial, etika, dan komunikasi yang efektif.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *